Mahasiswa di Persimpangan Zaman, Antara Disrupsi dan Tanggung Jawab Perubahan
BANDARLAMPUNG, RATUMEDIA.ID — Generasi muda, khususnya mahasiswa kini berada di titik krusial dalam perjalanan bangsa. Di tengah derasnya arus disrupsi teknologi, perubahan sosial yang cepat, serta krisis moral dan literasi, mahasiswa dituntut tidak sekadar cerdas, tetapi juga sadar, peduli, dan bertanggung jawab.
Akademisi Fakultas Hukum Universitas Lampung DR. Budiyono mengatakan, bahwa mengenai peran strategis mahasiswa di era digital saat ini. Menurutnya, kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, hingga berinteraksi. Namun di sisi lain, perubahan yang terlalu cepat ini juga memicu krisis nilai.
“Masalah terbesar generasi muda hari ini bukan pada kecerdasan intelektual, melainkan pada kurangnya kesadaran, kepedulian, dan tanggung jawab,” kata Budiyono di Bandar Lampung. Senin (06/04).
Sehingga, kata Budiyono, banjir informasi tanpa filter telah melahirkan disorientasi nilai dan lemahnya daya pikir kritis, yang berujung pada maraknya pelanggaran, baik di dunia nyata maupun ruang digital.
Kendati Demikian, mahasiswa tidak boleh hanya terjebak dalam rutinitas akademik mengejar IPK tinggi. Lebih dari itu, mahasiswa adalah kekuatan strategis bangsa.
“Mahasiswa adalah agen perubahan, kontrol sosial, sekaligus calon pemimpin masa depan. Mereka bukan penonton, tetapi aktor utama dalam sejarah bangsa,” ucapnya.
Selain itu, Sambung Budiyono, Sejarah telah membuktikan bahwa berbagai perubahan besar di Indonesia lahir dari gerakan mahasiswa yang berani dan visioner. Di tengah era digital yang penuh risiko, kesadaran hukum dinilai menjadi fondasi utama bagi mahasiswa dalam bergerak.
“Kesadaran hukum adalah kombinasi dari kontrol diri dan tanggung jawab sosial. Tanpa itu, kebebasan bisa berubah menjadi kekacauan,” jelasnya.
Sebaliknya, dengan kesadaran hukum yang kuat, kebebasan justru dapat menjadi kekuatan untuk mendorong perubahan yang positif dan berkelanjutan. Mahasiswa, kata dia, harus mampu bergerak secara utuh dalam empat lini utama:
Intelektual: berpikir kritis dan melahirkan gagasan solutif
Sosial: peka terhadap persoalan masyarakat dan terlibat langsung
Kepemimpinan: aktif berorganisasi dan belajar bertanggung jawab
Moral dan Hukum: menjaga integritas serta berani membela kebenaran
Tantangan Menuju Indonesia Emas 2045
Budiyono menambahkan, sejumlah tantangan internal generasi muda, seperti distraksi digital, mental instan, menurunnya kepedulian sosial, serta minimnya literasi hukum.
“Tantangan terbesar bukan teknologi, tetapi karakter,” urainya.
Untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, Budiyono menerangkan, pentingnya kolaborasi lintas sektor, kepemimpinan visioner, kesadaran hukum, karakter kuat, serta sumber daya manusia yang unggul dan adaptif.
“Mahasiswa sejati bukan hanya pintar, tetapi bernilai dan berdampak. Mereka menggerakkan, bukan sekadar mengikuti arus,” ungkapnya.
Budiyono mengingatkan, kepada pengurus BEM Universitas Lampung 2026, bahwa pelantikan bukan sekadar seremonial, melainkan awal dari amanah besar.
“BEM adalah laboratorium kepemimpinan sekaligus ruang pengabdian. Jabatan bukan prestise, tetapi tanggung jawab,” tambahnya.
Ia mendorong para pengurus untuk memegang teguh integritas, bekerja nyata, serta peka terhadap dinamika sosial dan hukum.
“Buktikan kepemimpinan bukan lewat kata-kata, tetapi melalui aksi nyata yang dirasakan manfaatnya oleh mahasiswa dan masyarakat,” pungkasnya. (*/Ncu)